Editorial Okmin TV: Oleh. Freni Lutrun
Kekuasaan Negara VS Siapa Yang Berihak Kepada Rakyat?
Judul tulisan ini sengaja kami pilih sebagai sebuah jalan tengah berfikir tentang perbedaan pendapat di public belakangan ini soal membangun masa depan Papua versus kepentingan negara/kekuasaan dan langkah keberpihakan kepada rakyat terhadap alamnya.
Ini bukanlah sesuatu yang berlebihan jika harus dialamatkan kepada Pemimpin Pegunungan Bintang, Spei Yan Bidana yang berani mengambil langkah bijak ditengah arus perubahan kebijakan politik negara yang masuk ke tanah Papua dengan berbagai macam tawaran program yang oleh banyak orang justru mengancam alam Papua.
Kehadiran Bupati Spei Yan Bidana dalam Pertemuan International Flora Malesiana Symposium dan International Nature-Based Climate Solutions Conference yang berlangsung di Manokwari, pada Senin, 10 Februari 2026 cukup memberi alasan yang kuat bagaimana harusnya negara memiliki landasan akademik dan konsep membangun Papua tanpa harus merugikan aspek lain seperti ancaman terhadap sumber daya yang berada di alam Papua itu.
Banyak orang termasuk elit Papua kemudian menilai Bupati Spei Bidana mengambil langkah berani, dan visioner karena tidak banyak kepala daerah lain di Papua yang secara sadar hadir dan terlibat aktif membicarakan Papua dalam konteks globalisasi pembagunan di berbagai aspek dan potensi ancaman yang bisa saja terjadi jika lalai dalam menentukan sikap politiknya.
Mungkin saja sebagian kalangan menilai sikap Bupati Spei ini wajar kerena lahir dari Partai PDIP yang saat memilih oposisi dengan Pemerintah, tetapi sebenarnya bukan soal itu. Ini beda konteksnya antara politik dan langkah penyelamatan terhadap rakyat dan alam Papua yang sudah berulang-ulang ia sampaikan dalam forum-forum resmi pemerintah. Bupati ini dengan sangat sadar merasa betapa pentingnya daerah yang dipimpin itu menjadi sumber kehidupan di Tanah Papua, seperti sumber air yang terjaga dan masih bisa memberi oksigen yang baik untuk kelangsungan manusia dengan alamnya. Disinilah titik pijak bagaimana ia memilih sedikit berseberangan dalam banyak terobosan politik negara menghadirkan program di tanah Papua.
Forum ilmiah yang mempertemukan ilmuwan, akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi lingkungan dari berbagai negara secara serius membicarakan keanekaragaman flora kawasan Malesiana dan bagaimana solusi perubahan iklim berbasis alam. Papua ditempatkan sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia, bukan hanya sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai rujukan ilmiah global. Dalam konteks ini, kehadiran kepala daerah menjadi penting karena menjembatani sains global dengan kebijakan lokal.
Untuk anda ketahui Pegunungan Bintang yang dipimpin Bupati Spei Yan Bidana ini bukan wilayah yang biasa, karena wilayah ini dikenal sebagai “Negeri Ok”, sumber air kehidupan. Dari kawasan Pegunungan Bintang atau Star Mountains mengalir sungai-sungai besar yang menopang seluruh sistem kehidupan di Tanah Papua: Sungai Digul yang mengalir ke selatan melewati Boven Digoel hingga Agats dan bermuara di Laut Arafura; Sungai Mamberamo yang mengalir ke utara; sungai-sungai besar di bagian timur; serta aliran-aliran air yang bergerak ke barat menuju Yahukimo dan Mappi. Secara ekologis, Pegunungan Bintang merupakan menara air alami yang menghidupi hutan, fauna, manusia, dan keseimbangan lingkungan Papua secara keseluruhan.
Kkonteks inilah yang tidak banyak dilakukan pemimpin lain selain langkah Bupati Spei yang berasal dari Pegunungan Bintang. Dirinya tidak memandang masa depan daerahnya sendiri sebaliknya, Keputusan ini menegaskan kepada kita bahwa kekayaan sejati Papua justru terletak pada kemampuan menjaga alamnya. Konservasi dipahami bukan sebagai penghambat pembangunan, melainkan sebagai investasi peradaban untuk menghadapi krisis global: perubahan iklim, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, mencairnya es kutub, dan perubahan sistem laut dunia.
Hal lain yang perlu dipahami dalam konteks ini bahwa sebagai daerah yang strategis untuk masa depan Papua, dirinya berupaya mendirikan kampus Universitas Okmin Papua. Alasan membangun kampus ini baru kemudian dipahami banyak orang kalau ada hubungan dengan menjaga alam Papua melalui peran Kampus sebagai pusat riset untuk ikut memberi andil dalam kebijakan-kebijakan politik daerah. Seluruh bentang alam Pegunungan Bintang adalah laboratorium hidup yang harus dijaga. Keanekaragaman flora dan fauna endemik, lanskap yang masih relatif utuh, serta pengetahuan lokal masyarakat adat merupakan sumber data ilmiah bernilai tinggi bagi dunia akademik internasional. Inilah alasan-alasan yang logis sehingga elit-elit Papua tidak memandang Langkah Bupati Spei “Berat sebelah” karena lahir dari Partai yang memilih oposisi melainkan lebih kepada keberpihakan untuk masa depan rakyat.
Dalam banyak kesempatan Bupati Spei secara tegas menyatakan sikap bahwa alam Pegunungan Bintang tidak untuk dibongkar demi kepentingan ekonomi sesaat. Alam harus dijaga, bukan dikorbankan. Flora dan fauna harus dilindungi, bukan dieksploitasi. Kesadaran ini berangkat dari pandangan jangka panjang bahwa di masa depan dunia justru akan mencari oksigen yang bersih, ekosistem yang sehat, suara alam yang alami, serta keanekaragaman hayati yang masih utuh—hal-hal yang hari ini masih dimiliki Papua.
*) Editorial ini digabungkan dengan Penulis Mahasiswa Program Magister Pendidikan IPA, Universitas Cenderawasih Jayapura Simon Kasipmabin













